Pelabuhan Senjaku

Suasana pagi hari di Universitas Muhammadiyah Sukabumi sangatlah indah, udara sejuk dengan aktvitas manis siap menjadi sarapan yang menyenangkan. Di setiap sudut akan kau temui orang-orang tersenyum menyambut kehadiran kita, entah saling mengenal atau tidak. Jika seseorang hendak mendahului langkah kita, atau bahkan berjalan tepat di hadapan kita, kau tak perlu merasa aneh karena akan banyak terdengar dialog “punten1 dan yang lainnya menjawab “mangga2. Aku yang tak pernah melakukan aktivitas itu pun pada akhirnya terbiasa mengadopsi budaya tersebut. Lingkungan mengenalkanku akan keramahan masyarakat pasundan, dan tidak butuh waktu lama aku mencintai tempat ini beserta segala yang ada di dalamnya.

Ketika menginjakan langkah di pintu gerbang yang kecil ini, seseorang memanggil namaku dengan suara sayup-sayup.

“Alyaaa..Alya..!!” panggilnya di kejauhan saat menuruni angkot bernomor 14.

Orang ini terlalu pirang untuk menjadi orang indonesia, dan terlalu indah untuk diabaikan sapaannya.

Aku menengok dan segera meyambutnya. “heyy, Cuna…mana yang lain?”

“engga tau, engga bareng.” Jawabnya khas.

Dia adalah kawan baikku, salah satu personil Keluarga ikan – begitulah kami menyebut diri kami – namanya Anna Oktaviana. Gadis Sunda dengan wajah Eropa.

Kebiasaan buruknya adalah ‘terlambat’, kelebihannya adalah cantik dan cerdas. Kelemahannya tidak bisa menyebrang jalan. Entah dijalanan ramai ataupun sepi ia tetap membutuhkan pemandu untuk menyebrang.

Empat orang lainnya menyusul di belakang, mereka adalah Andin, Tika, Sila, dan Hanna.

Harus ku katakan bahwa persahabatan itu indah, tak bisa ditukar dengan materi semahal apapun. Suatu hari di masa depan kau akan tertawa sampai menangis ketika mengenang segala hal tentang sahabat-sahabatmu.

Hari ini kuliah pertama di semester lima. Dengan seorang dosen yang suatu hari harus mampu kusaingi kehebatannya. Dosen ini yang membuka lebar mata hatiku untuk mencintai biologi beserta perangkatnya. Bahkan setelah dua tahun aku bergelut di studi biologi, baru hari ini aku mampu membunuh perasaan sesalku karena telah memilih Sains hafalan sebagai jalan hidupku.

“Siapa yang beranggapan biologi itu ilmu hafalan?”

Pertanyaan yang jauh-jauh hari sudah kumiliki jawabannya.

“Pasti kebayakan dari kalian beranggapan demikian, dan saya sangat menentang hal tersebut. Biologi itu ilmu pemahaman. Mari kita buktikan. Sebelumnya saya ingin bertanya, apa dikelas ini semua muslim? Apa ada yang non muslim?” Semua orang menjawab muslim. “ok, kalo semua muslim, berarti kita biasa melaksanakan shalat 5 waktu. Subuh, dzuhur, ashar, magrib, isya.” Dosen itu berbicara seraya memperagakan tangan searah jarum jam, dengan menyesuaikan pada waktu-waktu shalat. “ketika kita potong, ternyata kebanyakan waktu shalat itu dilakukan di malam hari, ada yang tau alasannya?” tak ada satupun yang menjawab. “semester 1 di biologi umum sudah belajar fisiologi tumbuhan?fotosintesis?” tanyanya.

“sudaaah” jawab kami serentak.

“kadar oksigen di bumi berubah-ubah setiap waktu, ada fase-fase tertentu saat oksigen berada di kadar tertinggi dan bahkan terendah. Ini berhubungan dengan aktifitas fotosintesis.”

Lalu ia membuat grafik hubungan antara waktu dan kadar oksigen di bumi. Di grafik itu jelas menggambarkan bahwa kadar oksigen terendah berada di sekitar pukul 20.00 sampai 06.00 pagi. Mengalami puncaknya sekitar pukul 06.00 sampai 12.00, dari pukul 12.00 sampai 14.00 mengalami penurunan dan naik lagi antara 14.00 sampai 18.00. selanjutnya terus mengalami penurunan. Karena itulah pada waktu-waktu tertentu saat kadar oksigen di bumi rendah, kita kerap kali terserang virus ngantuk berlebih, hal ini yang kemudian menjadi alasan biologis penempatan waktu-waktu shalat. Shalat dilakukan pada saat kadar oksigen di bumi rendah, untuk mencegah terjadinya efek fisiologis pada tubuh karena kekurangan oksigen, maka perlu dilakukan hal-hal agar peredaran darah dalam tubuh berjalan lancar, sehingga suplai oksigen ke otak berjalan dengan baik. Secara ilmiah gerakan-gerakan dalam shalat, terutama sujud, adalah gerakan terbaik untuk melancarkan aliran darah ke otak.

Subhanallah sekali hari ini…hari pertamaku di semester lima.

Andin yang duduk di sebelah, menengok kearahku dan tersenyum dengan gaya lesung pipit yang sangat manis.

“apakah kita memikirkan hal yang sama?” ucapnya.

“sepertinya begitu” jawabku nakal.

Semua berakhir manis, terlalu banyak hal memesona yang dibahas hari ini. Aku rasa semangat ini bukan hanya milikku, namun milik kawan-kawan satu angkatanku.

Hari semakin panjang, meninggalkan masa lalu yang penuh coretan hitam. Aku hampir melupakan semuanya, dan memulai kisah baru tanpa ingatan yang kusisakan diantara lamunan sepiku.

Melupakan bukan berarti menghilangkan dari memori hidup kita, melupakan hanya taktik penyembunyian ingatan saja. Suatu hari saat aku butuh belajar dari kesalahan masa lalu, maka memori itu akan kubuka lagi pelan-pelan.

***

Kulihat seseorang memperhatikanku, sorot matanya jelas menyimpan banyak rasa ingin tahu. Namun tak ada sapa untuknya, hanya tatapan datar yang ia terima. Meski sulit ku ungkapkan, nyatanya hingga hari ini aku masih mengingatnya. Hmm, kenapa harus dia yang mengunci rapat pintu hatiku…

 “Tinggal dimana, belum pernah lihat?” tanyanya ramah.

“Di Gank H. Maksudi.” jawabku seperlunya.

“wah, tetangga atuh.”

Tetangga?!! Tak pernah sekalipun aku melihat keberadaanya..aku terdiam lama, sampai akhirnya memutuskan untuk menyimpan jawaban ini dalam hati.

To be continu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s